Hujan di Ujung Senja

Senja itu datang dengan gerimis yang malu-malu. Lembayung mulai memudar, digantikan awan kelabu yang menggantung berat. Di halte kecil dekat taman kota, Lira berdiri memeluk tasnya erat. Payungnya tertinggal di kantor, dan ia terlalu lelah untuk berlari menembus hujan.

Dari kejauhan, langkah seseorang mendekat. Pria itu, dengan jas abu-abu dan ransel hitam, menghampirinya sambil tersenyum kecil.
"Aku ingat kamu selalu lupa bawa payung," katanya.

Lira menoleh. Dimas. Wajah itu masih sama, hanya lebih dewasa. Lima tahun tak bertemu, tapi suara dan caranya memanggil namanya masih membuat dadanya hangat.
"Kamu ngapain di sini?" Lira berusaha terdengar tenang.

"Aku kerja di gedung seberang. Lihat kamu dari jendela, dan… ya, aku cuma ikut naluri," jawabnya sembari membuka payung.

Mereka berdiri berdampingan, hanya diam, membiarkan suara hujan mengisi celah yang dulu sempat kosong.
"Masih suka hujan?" tanya Dimas.
Lira mengangguk pelan. "Masih. Apalagi kalau ada kamu."

Dimas tersenyum, lalu menggenggam tangan Lira. Hujan turun semakin deras, tapi mereka tak bergerak. Seolah waktu ikut berhenti di bawah payung kecil itu, di ujung senja yang membasuh luka-luka lama dengan rintik yang lembut.
Anjar Fatory
Anjar Fatory Seorang blogger trader independen yang menuliskan pengalaman dan catatan perjalanan trading emas (XAUUSD) serta berbagi strategi sederhana untuk belajar bersama. Dari pemula hingga belajar banyak. Enjoy Tod!

Posting Komentar untuk "Hujan di Ujung Senja"